WONOSOBO — Senyum bahagia tampak jelas dari
puluhan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah,
Kamis pagi.
Di sebuah gedung warisan Belanda,
mereka belajar berbicara, meski secara fisik menderita masalah pendengaran.
Di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dena
Upakara, Wonosobo, ada 137 anak yang diajarkan berbicara. Mereka yang belajar
adalah anak-anak perempuan dari berbagai wilayah di Indonesia yang terganggu
masalah pendengaran, dan dalam pertumbuhannya menyebabkan kebisuan.
Namun, ketika Gubernur Jawa Tengah
Ganjar Pranowo datang, bibir para bocah itu mulai bergerak. Dengan suara pelan
dan terbata-bata, para anak menyambut dengan ucapan "se-la-mat
da-ta-ng". Satu per satu, anak-anak itu berbicara.
Kepala Yayasan SLB Dena Upakara
Suster Yuliana mengatakan, gedung yang digunakan mengajar anak-anak sekaligus
asrama itu merupakan bangunan Belanda. Bangunan sempat menjadi markas tentara
RI saat masa kemerdekaan. Kini, usia sekolah itu 78 tahun. Sekolah tersebut
sempat ditutup karena gedung dipakai markas para tentara dalam melawan
penjajah.
"Saat Bung Karno berkunjung ke
Hotel Merdeka (kini Kresna), ada suster yang lapor enggak bisa mengajar karena
sekolah dipakai tentara. Lalu, Bung Karno saat itu juga minta tentara keluar
dari sekolah, dan bisa digunakan hingga saat ini," kata Yuliana, Kamis.
Bangunan yang ada pun bernilai
sejarah tinggi. Sebagian besar bangunan merupakan heritage atau warisan
yang dijaga sejak tahun 1938.
Anak-anak yang diajar bebicara itu
memanfaatkan metode metornal reflektif (MMR), atau belajar bahasa ibu.
Pelajaran yang disampaikan pada anak menggunakan bahasa ibu.
"Kalau kami menjelaskan kalimat
sesuatu, kami menjelaskan dengan bahasa ibu. Jadi, memang agak sulit,"
ujar salah seorang guru yang telah 28 tahun mengajar, Ningsih.
Anak-anak yang belajar pun tidak
diajar bahasa isyarat. Para guru meyakini, ketika anak diajarkan bahasa
isyarat, maka tingkat adaptasi di tingkat masyarakat menjadi sulit. Anak yang
mengalami gangguan pendengaran juga menyebabkan seorang menjadi sulit bicara.
"Kami ajarkan mereka bukan
dengan bahasa isyarat. Kami ingin agar mereka yang belajar segera cepat
bersosialisasi pada masyarakat," tambah dia.
Para guru pun ketika kali pertama
mengajar akan kesulitan. Butuh waktu sekitar empat tahun bagi guru untuk bisa
mengajar ABK ini dan memahami seluruh materi.
Adapun Gubernur Ganjar mendorong SLB
terus meningkatkan kemampuan diri. Sejauh ini, fasilitas belajar yang ada sudah
cukup untuk memberikan ruang belajar yang cukup.
Ia pun hari itu memberikan semangat
kepada dua sekolah luar biasa yang ada di Wonosobo, yaitu SLB Dena Upakara dan
SLB Don Bosco.
Ketua Yayasan SLB Don Bosco Bruder
Barcel pun menyatakan, kehadiran Ganjar memberikan angin semangat baru bagi
anak-anak. Sekolah yang mengajarkan 130 anak lelaki itu diharapkan mampu memungkinkan
anak-anak didiknya belajar berbicara secara lebih giat dan disiplin. (sem)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar